Rabu, 13 Maret 2013

IBU Menyusui

Menyusui Tak Sekadar Memberi ASI

Menyusui bukan sekedar memberikan makan untuk bayi, tetapi juga mengalirkan cinta, memberikan yang terbaik untuk bayi dari segi intelegensia, dan kesehatan lahir batin.

ASI itu bagus untuk kecerdasan, kesehatan bayi. Tetapi yang sering terlupakan oleh masyarakat bahwa kegiatan menyusui manfaatnya juga luar biasa. Kegiatan menyusui itu bisa juga melibatkan dekapan, belaian, berbicara, bernyanyi dan bersenandung dengan si bayi.

Menyusui, Kunci Ikatan Ibu dan Bayi


Setiap ibu tentu ingin memiliki hubungan yang dekat dan akrab dengan bayinya. Ikatan yang kuat antara ibu dan anak ini kelak akan berpengaruh pada rasa percaya diri anak. Rahasia ikatan yang paling efektif menurut para ahli adalah dengan menyusui si buah hati.

Memberikan air susu ibu (ASI), selain memberikan nutrisi terbaik bagi bayi, juga meningkatkan ikatan antara ibu dan anak dibanding ibu yang memberi susu formula kepada anaknya. Penelitian juga menunjukkan bahwa ibu yang memberi ASI memiliki respons otak paling kuat ketika mendengar bayinya menangis.

Hal tersebut dibuktikan oleh penelitian yang digelar tim dari Child Study Center, Universitas Yale, Amerika. Mereka membagi para ibu menjadi dua kelompok. Sebanyak 9 orang menyusui bayinya, sedangkan 8 ibu memberi susu formula. Para ibu itu kemudian melakukan tes MRI satu bulan setelah bayi lahir.

Ketika para ibu itu sedang melakukan tes MRI, mereka diperdengarkan dua rekaman suara tangis bayi, yakni tangisan bayi mereka sendiri dan tangisan bayi orang lain. Seluruh otak para ibu lebih aktif saat mendengar suara tangisan bayi mereka. Namun, respons otak paling kuat terlihat pada ibu-ibu yang memberi ASI.

Pilyoung Kim, psikolog perkembangan dari Universitas Yale, menjelaskan, ada banyak faktor yang berperan pada tingginya sensitivitas otak ibu menyusui. "Bukan cuma kerena memberi ASI, melainkan juga karena kadar hormon dan pengalaman personal lain," katanya.

Kadar hormon, misalnya, sangat bervariasi antara ibu yang memberi ASI dan tidak. Oksitosin, si hormon cinta yang membantu ikatan emosional antara ibu dan anak, akan dilepaskan secara alami ketika seorang ibu menyusui bayinya.

Kendati demikian, menurut Kim, aspek psikologi juga mungkin berperan. "Ibu yang memutuskan memberi ASI merefleksikan kecenderungan untuk lebih berempati kepada bayi mereka. Tekad untuk memberi ASI sejak bayi dalam kandungan juga meningkatkan ikatan antara ibu dan anak,


Pola Makan Ibu Menyusui


Ada beberapa hal yang patut diperhatikan dalam menyusun hidangan untuk ibu menyusui:

* Gunakan bahan makanan yang beraneka ragam agar kebutuhan akan zat gizi yang beragam dapat terpenuhi.
* Pilih bahan makanan yang mudah dicerna sehingga tidak mengganggu sistem pencernaan.
* Hindari pemakaian bumbu yang terlalu merangsang, semisal terlalu pedas, karena akan memengaruhi sistem pencernaan.
* Makanan yang dikonsumsi hendaknya tinggi kalori dan protein, juga memiliki kandungan vitamin dan mineral yang cukup.
* Usahakan mengonsumsi cairan dalam jumlah banyak, kurang lebih 800-1.000 ml per hari.
* Banyak mengonsumsi aneka buah dan sayur aneka warna.
* Jika ibu terlalu gemuk, kurangi makanan sumber zat tenaga.
* Jika ibu terlalu kurus, tambahkan porsi makan.


Contoh menu sehari saat menyusui enam bulan pertama
Bangun tidur: Satu gelas susu.
Sarapan: Nasi krawu katuk (nasi, daging suwir serundeng, tempe bacem, bening katuk, jagung manis).
Pukul 10:00: Selada buah atau bubur kacang hijau.
Makan siang: Nasi, ayam panggang cabai hijau, tahu kukus isi, sup iga kacang hijau brokoli wortel, pisang.
Pukul 16:00: Puding buah.
Makan malam: Nasi, pepes ikan bumbu kuning, satai hati, tempe mendoan, sayur asam Jakarta, apel.
Sebelum tidur: Satu gelas susu.

Contoh menu sehari saat menyusui enam bulan kedua
Bangun tidur: Satu gelas susu.
Sarapan: Nasi, telur mata sapi, orak-arik wortel, pepaya.
Pukul 10:00: Centik manis.
Makan siang: Nasi, kalio daging, perkedel tahu isi udang, bening katuk wortel.
Pukul 16:00: Goreng pisang.
Makan malam: Nasi,semur daging, tempe goreng, sup sayuran.
Sebelum tidur: Satu gelas susu cokelat.


Mencegah Payudara Bengkak Saat Menyusui


Menjadi suatu hal yang biasa bila payudara seorang ibu menjadi lebih besar dan berat ketika dalam masa menyusui, karena produksi ASI umumnya akan cenderung meningkat. Tapi permasalahannya, terkadang kepenuhan ini dapat berubah menjadi pembengkakan dan terasa sangat keras dan menyakitkan.

Pada kondisi ini, pembengkakan payudara biasanya disertai pula dengan demam ringan dan bahkan infeksi. Pembengkakan umumnya terjadi selama hari ketiga sampai kelima setelah melahirkan, tetapi bisa juga terjadi setiap saat.

Oleh karena itu, penting untuk mencoba mencegahnya sebelum hal ini benar-benar terjadi. Berikut adalah beberapa tips sederhana untuk mencegah pembengkakan payudara, seperti dikutip situs womenshealth.gov, salah satu bagian dari Departemen Kesehatan Amerika Serikat yang memfokuskan pada pelayanan kesehatan perempuan :

1. Sering-seringlah menyusui bayi ASI setelah proses persalinan. Biarkan bayi menyusu selama yang dia suka, sepanjang bayi Anda minum ASI dengan baik dan mengisap secara efektif. Dalam minggu-minggu pertama pasca melahirkan, Anda harus membangunkan bayi Anda untuk memberi makan setelah empat jam sejak awal pemberian makanan terakhir.
2. Bekerjasama atau meminta bantuan konsultan laktasi untuk memperbaiki cara menyusui.
3. Menyusui lebih sering pada payudara yang terasa sakit untuk mengeluarkan ASI. Agar payudara tetap bergerak bebas, dan mencegah jangan sampai payudara terlalu penuh.
4. Hindari penggunaan dot yang terlalu berlebihan, dan gunakanlah botol untuk membantu proses pemberian ASI.
5. Pegang payudara dengan tangan secara lembut dan pompalah sedikit ASI untuk melunakkan bagian payudara, areola (daerah gelap di sekitar puting payudara), dan puting sebelum menyusui.
6. Pijatlah payudara secara lembut.
7. Gunakan kompres air dingin di antara waktu menyusui untuk membantu meringankan rasa sakit.
8. Jika Anda harus bekerja, cobalah untuk memompa ASI pada jadwal yang sama ketika Anda memberikan ASI di rumah, atau Anda dapat memompa setidaknya setiap empat jam.
9. Cukup istirahat, nutrisi yang tepat, dan cukupi kebutuhan cairan.
10. Kenakan pakaian yang nyaman dan gunakan bra yang tidak terlalu ketat.


Pembersihan Puting Jelang Masa Menyusui
Tentunya kita ingin saat melahirkan kita sudah siap menyusui bayi kita. Puting susu dan areola merupakan anggota tubuh yang akan sangat berperan dalam menyusui bayi.

Pembersihan khusus dan berlebihan pada bagian puting dan areola akan membuat daerah tersebut menjadi kering, pecah - pecah dan terasa tidak nyaman karena kehilangan minyak alami yang akan menjaga kelembaban daerah puting dan areola.

Yang perlu dilakukan untuk merawat kebersihan puting dan areola adalah dengan mandi seperti bagian tubuh yang lain, tidak perlu dengan cairan atau pembersih khusus.

4 Fakta Saat Menyusui
Ada beberapa kekhawatiran para ibu baru ketika mereka akan menyusui si kecil. Apakah ASI Anda akan cukup baginya? Berapa lama waktu menyusui? Apakah bisa hamil lagi? Dan berbagai pertanyaan lain masih berkeliaran di kepala Anda. Inilah jawaban untuk semua pertanyaan Anda tersebut.

1. Posisi yang nyaman
Masing-masing ibu memiliki gayanya masing-masing saat menyusui anak. Berbagai gaya ini sebenarnya tidaklah menjadi masalah, karena yang paling penting adalah kenyamanan ibu dan bayi saat menyusui.

Salah satu posisi nyaman yang bisa ditiru adalah dengan memegang bayi dengan menghadap ke payudara Anda. Dekatkan payudara ke bibir bayi, dan sentuhkan. Tunggu sampai ia membuka mulutnya dan mencari puting susu Anda. Ketika ia lapar, ia akan membuka mulutnya dan mulai mengisap ASI. Jangan memaksanya untuk minum ASI karena jika ia hanya mengisap payudara dan bukan ASI, justru akan menyakitkan bagi Anda.

Setelah 10 detik pertama menyusui dan puting terasa sakit, sebaiknya lepaskan bayi perlahan-lahan. Caranya, tempatkan jari kelingking (pastikan sudah bersih) di sudut bibir bayi dan dorong menjauhi payudara. Setelah beberapa saat, coba lagi untuk menyusuinya. Selain menyakitkan, cara menyusui yang salah akan membuat puting berkerut dan keriput.

2. Kenali tanda bayi cukup ASI
Kulit bayi yang halus, warna yang cerah, dan berat badan yang bertambah merupakan indikator pertumbuhan bayi. Sebagian besar bayi biasanya menyusu sekitar 8-12 kali dalam sehari. Namun, setelah menyusu, Anda harus memerhatikan kondisinya apakah ia sudah mendapatkan cukup ASI.

Berat badan bukanlah satu-satunya indikator si kecil sudah mendapatkan cukup ASI atau belum. Berat badan yang menurun pun, belum tentu menunjukkan bahwa ia kekurangan ASI. Bayi akan kehilangan 10 persen dari berat tubuhnya saat hari-hari pertama setelah lahir. Berat badannya pun akan kembali setelah dua minggu kemudian. Salah satu tanda bahwa ia kurang mendapatkan susu adalah dari bahasa tubuhnya, seperti lesu, selalu mengantuk, pencernaan tidak lancar, dan berat badan yang terus menurun.

3. Tidak ada batas waktu menyusui
Sangat sulit untuk menentukan lamanya menyusui bayi, karena bagi bayi, ASI adalah makanan, sekaligus cara mendapatkan kenyamanan dan kedekatan dengan ibunya. Setiap bayi punya kapasitas dan waktu sendiri untuk menyusu, jadi sebaiknya tidak membandingkan bayi Anda dengan bayi orang lain.

Tak ada batas waktu yang pasti untuk menyusui. Pada hari-hari pertama, Anda akan mengalami proses menyusu yang memakan waktu yang lama. Namun, ketika bayi sudah lebih "mahir" menyusu, pastinya waktu menyusui juga akan lebih cepat.

4. Menyusui bisa jadi alat kontrasepsi andal
Saat hamil dan menyusui, secara otomatis, kadar hormon tubuh akan menjadi sedikit kacau. Selama periode menstruasi belum kembali normal, menyusui sama efektifnya dengan pil KB. Namun periode kesuburan kebanyakan ibu akan kembali antara 6-24 bulan setelah melahirkan.



ASI Eksklusif Wajib


ASI penting bagi kelangsungan hidup bayi. Inisiasi menyusui dini dapat menekan kematian bayi baru lahir hingga 22 persen.

Riset Kesehatan Dasar 2010 menyebut, bayi yang mendapat ASI eksklusif hingga umur 6 bulan baru 15,3 persen. Inisiasi menyusui dini yang dilakukan kurang dari 1 jam setelah bayi lahir hanya 29,3 persen.

Menyusui dini kurang dari 1 jam lebih banyak dilakukan ibu di pedesaan dengan tingkat ekonomi rendah. Bahkan, 11,1 persen ibu baru menyusui setelah bayi berumur lebih dari 48 jam. Ini membuat kolostrum yang mengandung antibodi terbuang.


Dua Minggu Paling Krusial di Masa Menyusui

Dua minggu awal pertama pascamelahirkan adalah masa-masa paling krusial bagi para ibu menyusui dan bayi. Pasalnya, pada periode tersebut dapat menentukan seberapa besar tingkat produksi ASI dari seorang ibu menyusui.

"Dua minggu pertama pasca melahirkan adalah masa tes marketnya. Jadi, kalau dua minggu itu bayinya menyusu terus, ke depannya produksi ASI akan tetap terus banyak," ucap Ketua Ikatan Konselor Menyusui Indonesia (IKMI) Nia Umar dalam talkshow di sela-sela event Breastfeeding Fair 2012 di Grand Indonesia Shopping Town – Eastmall Level 2 (Exhibition Hall) Jakarta, Jumat, (4/5/2012) kemarin.

Nia mengungkapkan, sistem kerja produksi ASI di payudara seorang ibu mirip dengan sebuah pabrik. Jadi, semakin banyak permintaan ASI, semakin banyak pula produksinya. Kalau permintaan produksinya sedikit, maka pabrik akan mengurangi produksinya.

"Oleh karena itu, rawat gabung pascamelahirkan sangat penting. Karena akan merangsang produksi ASI sehingga akan maksimal," tambahnya.

Nia berpendapat, masih ada sebagian besar ibu yang keliru dan menganggap bahwa menyusui hanya sebagai suplemen atau pendukung makanan bayi. Padahal, manfatnya ASI sangat dibutuhkan sepanjang hidup seorang anak. Nia mengibaratkan, ASI seperti blue print, di mana cetak biru seorang individu baru lahir adalah mendapatkan asi, karena itu merupakan sebuah rangkaian yang tidak terpisahkan.

"Inilah alasannya mengapa menyusui layak diperjuangkan," ujarnya.

ASI mengandung semua nutrisi yang diperlukan oleh bayi untuk setidaknya enam bulan pertama kehidupannya dan terus menjadi bagian terpenting dari pola makannya selama satu tahun.

Kolostrum yang didapat dari ASI mengandung antibodi yang memberikan perlawanan terhadap infeksi. Kurangnya pemberian ASI berhubungan dengan risiko lebih tinggi menderita Sindrom Kematian Bayi Mendadak (SIDS). Bahkan, pemberian makanan buatan dapat meningkatkan risiko bayi mengembangkan diabetes di masa depan. Hal ini juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.


Cara Menyusui Bayi yang Sedang Tidur


Bayi yang baru lahir perlu sering disusui agar tubuhnya punya daya tahan yang kuat. Rata-rata bayi baru lahir harus disusui antara 8-12 kali dalam satu hari, atau setiap 2-3 jam sekali. Namun, biasanya bayi lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur. Lalu bagaimana cara yang tepat menyusui bayi saat ia sedang tertidur?

1. Jika ia sedang tertidur saat waktunya menyusu, maka Anda harus membangunkannya perlahan. Tunggu hingga terlihat tanda-tanda ia bangun seperti mata yang bergerak, atau suara rengekannya. Rengkuh bayi, usap lembut tubuhnya dan ajak ia bicara hingga ia terbangun. Bila perlu, Anda bisa menggunakan kesempatan ini untuk mengganti popoknya atau memijat tubuhnya perlahan sampai ia benar-benar terbangun dari tidur.

2. Karena terlalu ngantuk, biasanya bayi sering tertidur selama menyusu. Bila hal ini terjadi, yang harus dilakukan adalah mengubah posisi menyusunya dengan lembut. Gerakan ini akan mendorong bayi terbangun dan kembali menyusu.

3. Ada saatnya ketika bayi sedang terbangun, ia justru tak bisa diam. Biasanya ia banyak bergerak sehingga sulit untuk menyusuinya. Cobalah untuk membuka pakaiannya, lalu dekap dan ayun perlahan. Anda juga bisa mengajaknya bicara atau bernyanyi. Cara ini umumnya bisa menenangkan mereka sehingga lebih mudah disusui.

4. Jangan biasakan untuk mengajak si kecil bermain di malam hari. Anda harus ingat bahwa, menyusui malam hari bisa dilakukan hanya bila ia bangun dan menangis. Cara ini bisa akan membantu mengajarkan bayi tidur sedini mungkin dan terlelap sepanjang malam sehingga Anda bisa beristirahat lebih panjang dan tenang.

ASI Eksklusif Cerdaskan Otak
Kecerdasan dan kekuatan otak anak bisa ditunjang dengan pemberian ASI. Sebuah studi terbaru di Inggris menunjukkan,anak-anak berusia 5 tahun yang saat bayi mendapatkan ASI eksklusif mempunyai nilai lebih tinggi dalam hal penguasaan kosakata dan penalaran dibandingkan yang tidak mendapatkan ASI.

Pemberian ASI juga dapat memberikan manfaat kesehatan di awal kehidupan buah hati Anda, seperti mengurangi risiko infeksi penyakit.

"Ada asam lemak esensial dalam ASI yang baik untuk pengembangan sel dan perkembangan otak pada khususnya," kata Amanda Sacker, Institut Penelitian Sosial dan Ekonomi, di University of Essex.

Selain itu Sacker berpendapat kemungkinan ada perbedaan hormon dan faktor pertumbuhan yang kurang dalam susu formula. "Anak-anak yang mendapat ASI juga mendapatkan lebih banyak pelukan, dan ini memberikan semacam keuntungan juga untuk mereka," tambahnya.

Penelitian ini berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan terhadap sekitar 12.000 bayi yang lahir di Inggris pada tahun 2000-2002. Sacker mengatakan, temuan yang akan diterbitkan dalam The Journal of Pediatrics ini mengarah pada hubungan sebab-akibat.

Sementara itu, Dr David McCormick, spesialis anak di The University of Texas Medical Branch, Galveston mengatakan, menyusui sangat bermanfaat bagi kekebalan tubuh serta perkembangan fungsi otak.

"Ada begitu banyak keuntungan lain daripada sekedar keuntungan IQ. Bukti selalu menunjukkan ASI eksklusif adalah yang terbaik,"


Menyusui Mencegah Kriminalitas

Menyusui merupakan cara penyediaan zat gizi yang cukup bagi bayi baru lahir untuk pertumbuhan dan perkembangan. Pemberian kolostrum, yang jumlahnya hanya sekitar setengah sendok teh, 1 jam pertama setelah kelahiran direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai makanan yang sempurna bagi bayi baru lahir. ASI eksklusif harus diberikan kepada bayi baru lahir hingga usia 6 bulan dan dilanjutkan dengan pemberian makanan tambahan, dan durasi menyusui pada bayi yang dilanjutkan hingga usia 2 tahun.

Tetapi kenyataan di lapangan berbicara lain. Cakupan ASI eksklusif masih jauh dari harapan, kisarannya antara 19-35% dengan alasan yang sangat beragam, mulai dari ASI yang tidak keluar hingga ketakutan dengan hilangnya keindahan dari payudara. Fenomena tersebut masih menghantui bagi bayi yang sangat membutuhkan ASI, ditambah lagi dengan iklan produk susu formula yang sangat menjanjikan kehebatan. Celakanya lagi, masih ditemukan beberapa gelintir oknum tenaga kesehatan yang mendukung produk susu formula untuk diberikan pada bayi usia kurang dari 6 bulan.

Padahal, Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA, Kementerian Kesehatan mendorong agar setiap pelayanan kesehatan terutama di puskesmas dan rumah sakit menyediakan konselor menyusui. Hal ini penting untuk membantu para ibu yang memiliki kendala memberikan ASI (Kompas, 11/8/2011)
Keuntungan menyusuiSebagian masyarakat mengetahui bahwa Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber zat gizi yang unik dan tidak dapat secara memadai digantikan oleh makanan apapun termasuk susu formula. Banyak keuntungan menyusui ASI terhadap bayi maupun ibunya. Bagi bayi, ASI dapat mencegah penyakit infeksi dan penyakit lain seperti diabetes, penyakit kardiovaskuler pada kehidupan remajanya. Selain itu ASI dapat meningkatkan kecerdasan anak.

Menyusui juga dapat mengontrol terjadi kehamilan berikutnya, dapat mencegah terjadi oestoporosis, meningkatkan kesehatan wanita yang diabetes, mencegah terjadi kanker payudara, dan kecil kemungkinan wanita menyusui mengalami kanker ovarium atau endometrium. Menyusui juga dapat meningkatkan kepercayaan diri sang ibu karena bisa memberikan banyak asupan zat gizi bagi bayi dan secara psikologis meningkatkan hubungan antara ibu dan anak.

Selain itu, menyusui dapat mengurangi resiko kelebihan berat badan dan obesitas. Centers for Disease Control and Prevention/CDC (2007) menyatakan, ada beberapa penjelasan potensial mengapa bayi yang diberi ASI terhindar dari obesitas. Salah satunya adalah bayi yang mendapat AS dapat mengendalikan jumlah susu yang dikonsumsinya, sehingga dapat mengatur rasa lapar dan kenyang lebih baik daripada bayi-bayi yang diberi susu formula.

ASI dan pengendalian emosi

Aktivitas menyusui menciptakan ikatan yang kuat antara ibu dan anak. Menyusui juga berperan penting dalam perkembangan emosional dan spiritual anak. Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikolog di rumah sakit di Amerika, dan menemukan bahwa banyak fakta tentang pengaruh pemberian ASI terhadap emosi dan perkembangan mental anak.

Anak-anak yang mendapatkan ASI penuh selama masa penyusuan cenderung tidak memiliki permasalahan secara mental pada 5 tahun fase perkembangannya. Sedangkan anak yang tidak mendapatkan ASI penuh cenderung memiliki perilaku buruk pada fase perkembangannya.

Dengan menyusui, interaksi ibu dan anak dapat terjalin sejak dini secara intensif. Berdasarkan hasil penelitian Millenium Cohort Study ditemukan bahwa empat persen bayi yang disusui ibunya punya masalah perilaku di kemudian hari. Sementara 16 persen yang diberi susu formula mempunyai masalah perilaku. Artinya, pemberian ASI tetap lebih baik dari susu formula.

Sejumlah proyek penelitian telah dilakukan Universitas Oxford, Essex dan York, bersama-sama dengan Universitas College London. Mereka sampai kepada kesimpulan bahwa menyusui berdampak pada perilaku anak.

Mereka menggunakan data dari Cohort Millenium yang melakukan survei terhadap bayi yang lahir di Inggris selama periode 12 bulan, yaitu antara tahun 2000 dan 2001. Lebih dari 10.000 pasang ibu dan bayi ambil bagian dalam survei tersebut. Mereka diwawancarai saat bayi berusia sembilan bulan dengan selang dua tahunan. Para peneliti meminta orang tua untuk mengisi kuesioner guna menilai potensi kesulitan perilaku anak-anak mereka. Pertanyaan mencakup masalah-masalah emosional seperti kecemasan, hiperaktif, kegelisahan, dan masalah perilaku seperti berbohong dan mencuri.

Bila dikaitkan dengan hasil penelitian tersebut diatas, maka ada dugaan bahwa meningkatnya kriminal ada kaitannya dengan tingkat pemberian ASI yang masih rendah. Hal ini harus kita cermati dengan serius jika kita berharap mempunyai generasi penerus yang berkualitas sesuai dengan UU nomor 23/2002 tentang perlindungan anak.

Kampanye ASI ekslusif harusnya semakin gencar, semoga para ibu dan calon ibu memahami hal ini. Pada akhirnya, perjuangan seorang ibu untuk menyusui sangat menguntungkan, bukan hanya pada jangka pendek (hemat biaya), namun memiliki keuntungan jangka panjang yang sangat mahal, yaitu ibu dan anak tidak menderita obesitas, penyakit degeneratif serta menekan kriminalitas. Semoga.


Diet Meningkatkan Pasokan ASI


Banyak ibu menyusui menjadi cemas bayi mereka tidak mendapatkan ASI yang cukup dan khawatir pasokan air susu mereka rendah. Seperti diketahui, banyak atau tidaknya pasokan susu sangat tergantung dari seberapa sering ibu memberikan ASI ke bayi mereka. Semakin sering menyusui, maka jumlah ASI akan semakin besar, begitu pula sebaliknya.

Namun ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa diet memiliki pengaruh terhadap produksi ASI, seperti dikutip Lifestrong berikut ini:

Makan sehat

Seorang wanita hamil harus makan lebih banyak ketimbang wanita normal untuk mendapatkan energi yang cukup untuk produksi ASI. Wanita yang menyusui membutuhkan sekitar 500 kalori ekstra setiap hari. Ibu hamil juga harus mengonsumsi berbagai macam jenis makanan, selain juga suplemen vitamin, untuk mendapatkan berbagai nutrisi yang dibutuhkan bayi mereka. Ibu hamil harus mendapatkan setidaknya tiga protein dan lima porsi kalsium setiap hari, dan mengonsumsi makanan kaya zat besi. Beberapa makanan yang dapat menjadi pilihan utama antara lain sayuran berdaun hijau, biji-bijian, buah-buahan segar, ikan kaya lemak omega tiga dan produk susu rendah lemak.

Cairan

Selain mengonsumsi berbagai makanan yang sehat, wanita yang sedang menyusui harus minum banyak cairan. Selain air putih, Anda juga dapat memenuhi kebutuhan cairan tubuh dari jus buah murni (tanpa gula) dan susu rendah lemak untuk membantu meningkatkan pasokan ASI. Ibu menyusui harus mendapatkan minimal 8 gelas cairan setiap hari, sebaiknya tanpa kafein. Anda juga dapat mencoba teh herbal yang dirancang untuk menstimulasi produksi ASI.

Makanan khusus

Meski kebanyakan wanita menghasilkan ASI cukup untuk bayi sekalipun gizi mereka tidak baik, namun pola makan yang buruk dapat mempengaruhi kualitas ASI mereka. Hal ini tentu akan memengaruhi asupan nutrisi yang dibutuhkan bayi Anda. Ada beberapa makanan tertentu dapat meningkatkan pasokan ASI. Termasuk di antaranya, oatmeal, bawang putih dan jahe. Jika pasokan ASI Anda rendah, cobalah menyantap oatmeal untuk sarapan setiap hari, dan menambahkan lebih sedikit rempah-rempah ke dalam makanan Anda.

Suplemen

Selain makanan, ada beberapa suplemen diet yang dipasarkan untuk ibu menyusui, yang diklaim dapat meningkatkan suplai ASI. Meskipun hanya ada sedikit penelitian ilmiah yang menguji tentang efektivitas suplemen tersebut, namun banyak ibu menyusui yang melaporkan keberhasilan pengunaan suplemen herbal tersebut. Para ahli dari Newman Breastfeeding Clinic and Institute merekomendasikan kapsul fenugreek. Herbal lain yang direkomendasikan untuk meningkatkan suplai ASI adalah daun raspberry dan alfalfa. Namun sebelum menggunakan suplemen herbal saat menyusui, pastikan berkonsultasi dahulu dengan dokter atau dokter anak Anda.


Menyusui Sambil Menurunkan Berat Badan


* Ibu yang sedang menyusui membutuhkan tambahan kalori sekitar 300-500 kkal/hari dari kebutuhan total saat tidak hamil, untuk memproduksi ASI bagi sang bayi. Sayang sekali pada kesempatan ini, saya tidak bisa membantu Nina menghitung berapa tepatnya kebutuhan kalori Nina dalam sehari karena Nina tidak melampirkan data berat badan, tinggi badan, kegiatan/aktivitas sehari-hari, serta obat yang dikonsumsi untuk diabetes maupun hipertensinya.

Jenis makanan yang dikonsumsi
* Mengikuti diet gizi lengkap dan seimbang, artinya makanan yang dikonsumsi harus mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan tubuh seperti karbohidrat, protein (hewani, nabati), lemak, vitamin, mineral, serat, dan air, tentunya dengan jumlah yang sesuai kebutuhan. Adapun contoh bahan makanan sumber:
- Karbohidrat banyak pada makanan pokok seperti nasi, kentang, roti, pasta, mie, bihun, tepung, ubi, singkong, dll.
- Protein hewani pada daging ayam, daging sapi, ikan, telur, seafood.
- Protein nabati pada kacang-kacangan, tahu, tempe, dll.
- Vitamin dan mineral pada sayuran, buah-buahan, dan susu.
- Serat pada sayur dan buah.

* Bagi penyandang diabetes dianjurkan:
- Lebih memilih karbohidrat kompleks (nasi, sereal, roti gandum, dll) daripada karbohidrat simpleks (gula pasir, gula jawa, madu, dll), dimana konsumsi dibatasi sekitar 5-10 persen dari total kalori sehari. Jadi dianjurkan hanya sebatas bumbu untuk memasak. Jika ingin mendapatkan rasa manis yang lebih dalam makanan maupun minuman, dapat menggunakan sweetener yang sudah diijinkan oleh badan POM.
- Pilihlah protein yang rendah lemak agar asupan kolesterol tidak melebihi 200 mg/hari.
- Konsumsi banyak serat dari sumber alami seperti sayur dan buah.
- Pilihlah lebih banyak jenis lemak yang baik seperti omega 3 (ikan laut dalam, flaxseed), omega 6 (biji-bijian dan kacang-kacangan) dan omega 9 (alpukat, dark chocolate, olive oil).
- Batasi konsumsi garam sekitar 5 g/hari (setara dengan 1 sendok teh peres) mengingat adanya penyakit hipertensi. Selain itu harus diingat bahwa sumber garam dalam makanan sehari-hari juga bisa diperoleh dari penyedap rasa, makanan yang diawetkan, maupun makanan dalam kaleng. Oleh karena itu setiap kali membeli makanan yang sudah jadi, silakan membaca kandungan gizi (nutrition fact) makanan tersebut, sehingga dapat dihitung sudah berapa banyak garam/ natrium/ sodium yang dikonsumsi.
- Contoh pembagian zat gizi tersebut dalam 1 piring (lihat gambar) dimana sayur dan buah mendapat porsi terbesar, sekitar ½ porsi, lalu nasi atau makanan pokok sekitar ¼ porsi, dan protein ¼ porsi juga. Susu 1 gelas untuk mendapatkan kecukupan vitamin, mineral (kalsium, pospor, magnesium, dll) bagi tubuh terutama bagi ibu yang menyusui.

Jadwal makan
Sebaiknya diberikan dalam porsi yang terbagi small and frequent, biasanya dalam enam kali pemberian, yang meliputi sarapan, snack pagi, makan siang, snack sore, makan malam, dan snack malam. Adapun tujuan pembagian tersebut agar kadar gula yang dihasilkan dari makanan yang dikonsumsi tidak melonjak secara drastis, karena porsi yang diberikan sekaligus dalam jumlah banyak.


Bentuk Dukungan Ayah terhadap Ibu Menyusui


Niat baik untuk memberikan dukungan kepada ibu menyusui tidak cukup tanpa menunjukkan sikap dengan cara tepat sesuai kebutuhan. Bisa saja dukungan yang dikira sudah cukup bagi ayah, ternyata tidak sesuai kebutuhan ibu.

Banyak cara yang bisa ayah lakukan mendukung ibu menyusui. Memberikan pijatan lembut saat ibu terbangun tengah malam untuk menyusui dapat menjadi bentuk dukungan dan perhatian. Bangun malam menemani ibu menyusui menjadi bentuk dukungan wajib bagi para ayah ASI.
Apresiasi terhadap istri ketika mendapati ASI perah tak sesuai harapan (tak banyak ASI yang berhasil diperah), juga menjadi bentuk dukungan lain yang bisa dilakukan ayah ASI. Caranya, berikan respons positif kepada ibu menyusui ketika hasil ASI perah tak sesuai harapan.
Ibu menyusui juga perlu waktu untuk memanjakan dirinya, bersenang-senang, menikmati me time sebagai caranya untuk beristirahat. Memahami bahwa ibu menyusui butuh me time, dan memberikan kesempatan kepadanya untuk bersenang-senang, juga menjadi bentuk dukungan
Apa pun kebutuhan ibu menyusui, jika kesadaran muncul dari dalam diri ayah ASI ditambah kejelian terhadap kondisi ibu, akan menghasilkan bentuk dukungan tepat. Lama kelamaan, empati pun semakin terlatih, dan ayah ASI mampu memberikan dukungan lebih baik lagi terhadap ibu menyusui.,
 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar