Selasa, 12 Maret 2013

Baby

Stimulasi untuk Bayi 0-3 Bulan
Bayi butuh stimulasi agar jaringan saraf otak semakin berkembang dan terkoneksi sehingga ia lebih cepat memahami dan memproses informasi. Sebaliknya, ketiadaan stimulasi akan membuat jaringan sel saraf itu mati. Akibatnya berbagai potensi kecerdasan anak akan ikut terkubur.

Pada usia 0-3 bulan, kemampuan motorik bayi belum berfungsi optimal. Sehingga stimulasi yang diberikan lebih ke arah memperkaya konsep dasar pengetahuannya, seperti pengenalan warna, bentuk, sensori, fokus, perhatian, suara, dan kemampuan membedakan. Berikut penjelasan Titi P Natalia M,Psi, Staf Pengajar Program Magister Psikologi Universitas Tarumanegara Jakarta, mengenai stimulasi tepat untuk bayi usia 0-3 bulan.

Alat dan cara bermain
* Boneka aneka warna. Sediakan bola kecil berwarna-warni, ibu-ayah bisa membuatnya sendiri dari kaus kaki bekas yang digulung. Gerakkan sebuah bola ke kiri-kanan di atas bayi, sehingga ia dapat melihatnya. Bayi akan berusaha mengenali bentuk dan warnanya. Sentuhkan juga bola itu ke tangannya untuk menstimulasi indra sensorinya.
Manfaat: Merangsang indra penglihatan, mengenal aneka warna, dan melatih kemampuan fokus bayi.

* Mainan gantung. Mainan gantung adalah mainan bisa digantung di atas tempat tidur bayi. Kita bisa membuatnya sendiri atau membeli mainan yang sudah jadi. Jika ingin membuat sendiri, bisa dengan membentangkan tali di atas boks bayi, lalu gantungkan mainan (boleh boneka atau gambar lucu) persis di atas wajah bayi. Sebaiknya bentuk dan warnanya berbeda-beda supaya bayi bisa membedakannya.
Manfaat:
- Merangsang bayi mengenal aneka bentuk, gambar, dan warna.
- Jika ia berusaha menggapai mainan tersebut, maka kemampuan motorik halusnya ikut terstimulasi.
- Mengenalkan kosakata lalu kita menjelaskan satu per satu nama dari boneka binatang itu. Pengetahuannya pun bertambah.

* Mainan berbunyi. Mainan yang berbunyi seperti rebana kecil dan kerincingan bisa menjadi pilihan. Alat-alat dapur yang mengeluarkan bunyi seperti dua sendok yang diadu, gelas yang dipukul dengan sendok, bahkan tepukan tangan, juga bisa. Bunyikan mainan atau alat tersebut di depan bayi, lalu gerakkan secara perlahan ke kiri-kanan dan atas-bawah sehingga merangsang bayi untuk mengikutinya.
Manfaat:
- Melatih kemampuan indra pendengaran.
- Melatih motorik halus jika bayi berusaha menggapai.
- Melatih motorik kasar dengan bayi menggerakkan lehernya.
- Mengenalkan kosakata, bila kita lakukan sambil bernyanyi.



Cara Menstimulasi Bayi 3-6 Bulan

Pada masa bayi, sebagian besar stimulasi yang diberikan dapat meningkatkan kemampuan motorik, baik kasar maupun halus, karena bayi sedang giat-giatnya meningkatkan kemampuan motoriknya. Semakin sering kemampuan motorik distimulasi, maka perkembangan ototnya akan semakin matang. Meski begitu, stimulasi tetap dapat memberikan manfaat ganda. Saat orangtua melatih kemampuan motorik anak, maka kemampuan lain seperti bahasa, kognitif, dan lainnya akan ikut terasah.

Penting dicatat, stimulasi harus diberikan menyesuaikan usia dan kemampuan bayi. Beda usia beda stimulasinya. Berikut penjelasan Titi P Natalia M,Psi, Staf Pengajar Program Magister Psikologi Universitas Tarumanegara Jakarta, mengenai stimulasi tepat untuk bayi usia 3-6 bulan. Pada usia ini kemampuan bayi semakin baik. Ia bisa mengangkat kepala, meraih benda, dan lainnya.

Alat dan cara bermain:
* Cermin. Gunakan cermin yang ada di lemari, dinding, atau cermin kecil yang dapat dipegang. Gendong bayi di hadapan cermin, ia pasti senang. Biarkan ia meraba-raba cermin itu. Sambil bercermin, tunjuk satu per satu bagian wajahnya, kepala, mata, mulut, hidung, dan seterusnya. Stimulasi ini memiliki sejumlah manfaat, di antaranya belajar mengenali diri dan beberapa bagian anggota tubuhnya dan mengasah kemampuan emosi. Bayi belajar mengenai emosi dan ekspresi, seperti ketika ia tertawa ekspresinya berbeda ketika ia cemberut. Mungkin ia juga akan mengedipkan mata, memonyongkan mulut, melebarkan kelopak mata, dan lainnya yang membuat ia lebih memahami ekspresi wajahnya.

* Plastik atau kertas koran. Remas plastik atau kertas koran itu, tapi jangan sampai menggumpal. Kemudian, minta si kecil ikut meremasnya. Suara yang keluar saat plastik atau kertas koran diremas akan membangkitkan rasa ingin tahu bayi. Tak hanya tangan, sentuhan di telapak kaki pun bisa kita berikan. Manfaat stimulasi ini adalah melatih kemampuan sensori dari tekstur plastik dan kertas. Sensitivitas kaki bayi pun akan terasah sebagai modal untuk belajar berjalan.

* Mainan atau benda menarik. Perlihatkan mainan atau beda yang menarik perhatian bayi, lalu letakkan mainan itu sejauh jangkauan tangan bayi. Biarkan bayi berusaha meraih mainan atau benda tersebut. Manfaatnya, meningkatkan kemampuan motorik halus dan menstimulasi kemampuan sensori jika benda yang digunakan beraneka warna dan konturnya berbeda.



4 Cara Stimulasi Bayi 6-9 Bulan

Pada usia 6-9 bulan, bayi mampu duduk lebih baik, lebih mengerti ucapan kita, interaksinya lebih jelas, lebih mengenali apa yang diperlihatkan kepadanya, juga ekspresinya lebih kuat. Titi P Natalia, M,Psi menyarankan sejumlah stimulasi yang tepat diberikan pada bayi usia ini di antaranya:

1. Mainan bergerak. Ada sejenis mainan seluncur seperti sliding car atau sliding ball. Mobil atau bola diletakkan di bagian atas, lalu meluncur atau menggelinding ke bawah melalui trek atau jalan yang ada di mainan tersebut. Tunjukkan cara memainkannya ke bayi, lalu minta ia memperhatikan kala mobil atau bola meluncur ke bawah. Mainan lain seperti baling-baling, pesawat yang digantung lalu berputar, atau ikan yang bergerak di dalam kolam bisa jadi pilihan. Manfaat stimulasi ini di antaranya:
- Melatih respons mata bayi. Matanya akan tergerak untuk melihat dan mengikuti ke mana benda itu bergerak.
- Mengenal aneka warna, bentuk, dan menambah kosakata karena orangtua menunjukkan cara bermain dengan menjelaskan nama-nama mainan itu.
- Melatih kemampuan motorik dan sensori ketika bayi berusaha meraih dan memegangnya.

2. Buku cerita. Pilih buku dongeng yang memiliki aneka kontur (halus, kasar, keras), bisa diremas, pop-up (ada gambar yang timbul atau muncul), atau terbuat dari kain. Intinya, tak sekadar buku dongeng biasa tetapi lebih interaktif. Bacakan dongeng tersebut dengan lembut, hindari intonasi suara terlalu tinggi. Cukup bacakan beberapa menit saja, selanjutnya biarkan bayi mengeksplorasi buku bacaan itu. Manfaatnya:
- Memperkaya kosakata bayi, sehingga kemampuan bicaranya menjadi lebih terasah.
- Pesan moral yang ada dalam dongeng kelak bisa menjadi bekal bayi untuk berperilaku.
- Buku dongeng yang lebih interaktif bisa menstimulasi kemampuan motorik, sensori, daya ingin tahu dan kreativitas bayi.

3. Peralatan rumah tangga. Antara lain peralatan makan, peralatan masak, stoples plastik, bahkan kursi plastik. Peralatan makan bisa dijadikan alat pukul untuk menghasilkan bunyi. Stoples plastik bisa dipukul-pukul. Peralatan dapur bisa untuk main masak-masakan. Atau kursi plastik bisa didorong-dorong untuk belajar berjalan. Dampingi saat bayi mengeskplorasi peralatan rumah tangga tersebut. Manfaatnya, menstimulasi kemampuan motorik, pengetahuan, daya eksplorasi, juga pancaindera.

4. Mainan dan benda bergerak. Tunjukkan mainan atau benda yang menarik perhatian bayi, lalu letakkan mainan atau benda itu sekitar satu meter didepannya. Biasanya bayi akan berusaha meraihnya dengan merayap atau merangkak. Selanjutnya, letakkan lebih jauh supaya kemampuan bayi meningkat. Manfaat stimulasi ini di antaranya:
- Meningkatkan kemampuan koordinasi motorik, kekuatan otot-otot, dan ketangguhan bayi ketika berusaha meraih benda tersebut.
- Menstimulasi kemampuan sensori jika benda yang digunakan beraneka warna dan konturnya berbeda-beda.
Stimulasi untuk Tingkatkan Kecerdasan Anak
Untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak dibutuhkan bukan hanya nutrisi dan imunisasi, melainkan juga kasih sayang dan stimulasi. Perkembangan otak manusia berkembang pesat sejak janin masih dalam kandungan, hingga bayi berusia tiga tahun. Setelah itu perkembangan otak melambat.

Hal itu dikatakan dokter spesialis anak, Soedjatmiko, dalam media briefing usai simposium "Nutrisi untuk Pertumbuhan serta Deteksi Dini dan Intervensi Penyimpangan Tumbuh Kembang" dalam rangka rapat kerja nasional Ikatan Bidan Indonesia di Kota Solo, Selasa (11/10/2011).

Menurut Soedjatmiko, nutrisi terbaik untuk bayi adalah air susu ibu (ASI), yang harus segera diberikan setelah kelahiran hingga bayi usia enam bulan. Setelah itu bayi diberikan makanan pendamping ASI.

Anak di bawah usia tiga tahun yang mengalami kekurangan nutrisi, akan menyebabkan tingkat kecerdasannya tidak sebaik anak yang mendapat kecukupan gizi.

"Namun cukup gizi saja tidak cukup. Jika otak pintar namun bayi tidak mendapat cukup stimulasi, dia juga tidak bisa apa-apa. Pada prinsipnya, asah asih asuh untuk bayi-bayi kita agar menjadi generasi penerus yang berkualitas,"


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar